Cerpen Usil : Peke Jilbab Jangan!!! (Part 2)

Juni 24, 2009 at 3:16 am (Cerpen) (, , , , , )

“Ya… gimana kalau gue ikutan pake jilbab aja” kata Nuri. Matanya menerawang menatap atap warung Mang Dudung yang keliatanya baru diganti.

            Uhuk….Uhuk….. Rio yang tengah asyik menikmati rezeki mendadaknya keselek.

            “ya… biar keluarga untung jadi pindah ke gue aja sih…” lanjut Nuri.

            “Serius lo Nur? Lo udah ga waras ya?” kata Rio yang agak shock.

            “ya… kayanya sih gitu Yo, emang udah gila kali gue.”

            “hua…ha…ha….ha ngaco aja lo. Kalo lo pake jilbab, dunia bakal kisruh.”kata Rio sambil ketawa “emangnya kenapa harus pake’ jilbab?” tanya Rio masih sambil ketawa-ketawa, yang ditanya Cuma angkat bahu aja.

***

 

Nuri memberanikan diri untuk masuk kedalam toko yang sudah lama diintainya. Sekarang toko tersebut lagi sepi. Nuri menelusuri rak-rak penuh dengan kain warna-warni. Di dinding-dindingnya di pajang aneka kain penutup kepala tersebut. Ada yang segi empat ada pula yang ‘otomatis’ langsung pakai. Dilihatnya model jilbab yang telah dipajang di etalase toko itu berhari-hari yang lalu. Warnanya biru kalem, dengan kombinasi bunga-buanga pink keungu-unguan. Cantik.

            “mbak, bisa liat jilbab yang di pajang itu?”

            “ini dek.” kata pelayan toko ramah.

Nuri melipat kain segi empat itu di ujung-ujungnya membentuk segitiga. Di perhatikannya kain indah di tangannya. Tenyata lebih indah dilihat dari dekat. Selama ini ia hanya bisa melihatnya dari luar toko saja. Lega juga akhirnya bisa masuk dan melihatnya langsung. Jadi beli ga’ ya…??? Batin Nuri bingung.

            “buat hadiah ya dek?” tanya si pelayan toko yang tadi.

            “oh, bukan mbak.” Jawab Nuri kaget. Dia berjalan 3 langkah ke kanan, mendekatkan diri di depan cermin yang telah di sediakan. Kepalanya tengak-tengok, takut kalau-kalau ada teman-temannya yang melihat. Aman. Diselempangkannya kain yang sedari tadi dipegang.

            “mbak, kalo saya yang pakai ini, pantas ga ya…?” tanya Nuri kepada pelayan toko yang tadi. Si pelayan tersentak agak kaget. Lalu tersenyum seolah-olah menahan tawanya tidak memberi jawaban. Wajah innocent Nuri bersemu merah sial, kok gue malah di ketawain? Batinnya.

 

***

            Dikamarnya yang sejuk ber-AC. Nuri merebahkan badannya di atas kasur empuknya. Panas-panas gini dibela-belainnya mampir ke toko yang telah di perhatikannya sejak berhari-hari yang lalu, Eh… malah di ketawain sama pelayan tokonya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Cepat ia berjalan ke kamar Kak Maya. Beruntung ia teringat kakaknya yang berjilbab sedang tidak ada di rumah. Pasti ada, walau cuma selembar. Ga mungkin Kak Maya bawa semua barang-banrangnya ke Bandung. Di telusurinya isi lemari kakaknya yang tengah menjalankan semester keempatnya di luar kota. Yap, dapat! Gocha! Di ambilnya jilbab langsungan berwarna kuning gading dengan renda putih sederhana di bagian lehernya.

            “manis juga, tapi, cocok ga ya…?” katanya kepada dirinya sendiri. Ia berjalan menuju cermin besar di kamar kakaknya. Dikenakannya jilbab temuannya dengan sebersit ragu. Ditatapnya dirinya dikaca. Berbalutkan kain di kepalanya. Aneh. “rasanya ga pantas!” matanya terus memperhatikan sosok bayangannya di kaca.

            “Nur, kamu ga makan si…” kata-kata mamanya terputus. Sontak Nuri melepas jilbab kepunyaan kakaknya. Kaget. Jantungnya rasanya mau copot. Ya ampun, mama kok masuk-masuk sembrangan sih?

 “ Ya ﺍﷲ Nuri!” teriak mamanya. “Kamu apa-apaan sih?”

            “eng… enggak kok ma…” jabab Nuri bingung mau ngasih alasan apa. “Nuri Cuma…”

            “Cuma apa hah???”

            “Nuri pingin pake jilbab ma…” jawabnya pasrah.

            “pake jilbab?” mamanya bengong sesaat. “ha…ha… ha… kamu aneh-aneh aja Nur!” katanya sambil menahan geli. “ya nggak pantes lah Nur!”

            “ya… iya sih ma… kaya’nya emang ga pantes ya…?”

Muncul sesosok lagi di pintu kamar Kak Maya. Ayah. Oh…  NO…!!! jangan ayah.

            “ada apa ma? kok teriak?” tanya ayahnya keheranan

            “ini lho Yah, Nuri mau pake jilbab.” Jelas mamanya sambil menahan tawa.

            “yang bener Nur?”

            “he-eh “

            “aneh-aneh aja kamu! Pokoknya ga boleh!” jawab ayahnya kasar.

            “ya… biarin lah Yah. Namanya juga anak muda. Aneh-aneh aja. Paling dia Cuma pingin nyoba aja. Ga’ mungkinlah dia berani pake jilbab keluar rumah.” Terang mama.

            “ya tapi, tetap aja ga boleh ma. Pokoknya ayah ga akan setuju.”

            “iya… iya Yah. Nuri becanda aja koq…” jawab Nuri.   

“becanda kok ga masuk akal gitu?” kata ayah. Lama-lama pingin ketawa juga liat tingkah anak bungsunya itu. Lagi pula, emangnya becanda harus masuk akal ya…? “kamu itu cowok Nur. Becandanya di area cowok dong! Jangan nyusup-nyusup ke daerah cewek. Ingat kodrat mu!”

            “iya… Yah” kata Nuri sambil ngembaliin jilbab kakaknya.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.